Salah satau Olah Raga yang di kembangkan di Yayasan Mulya Cendekia adalah Olah Raga Bela Diri Karate.
Sejarah Karate Secara Umum
Awalnya, perkembangan karate terjadi sekitar abad ke-16 M di Pulau Okinawa. Pada saat itu Pulau Okinawa belum menjadi bagian negara Jepang.
Seiring berjalannya waktu, pada abad ke-19, Pulau Okinawa menjadi bagian negara Jepang dan karate mulai berkembang di Jepang.
Nama seni bela diri ini awalnya bukanlah karate, tetapi “Tote”. Tote memiliki makna yaitu “tangan China”.
Setelah tote masuk ke Jepang maka kanji Okinawa diganti oleh sensei Gichin Funokashi ke dalam kanji Jepang sehingga tote berubah menjadi karate pada 1916.
Seiring bertambahnya waktu, klub karate kian banyak bermunculan, baik di sekolah dan universitas.
Selain itu, karate kerap kali diperlombakan dalam berbagai acara, seperti ajang kejuaraan tingkat nasional hingga perhelatan Olimpiade.
Pada 1970, akhirnya dibentuk WKF (World Karate Federation) yang mengatur semua hal mengenai karate di seluruh dunia.
Sejarah Karate di Indonesia
Masuknya karate ke Indonesia dipelopori oleh mahasiswa Indonesia yang telah menyelesaikan pendidikannya di Jepang, seperti Baud Adikusumo, Muchtar, dan Karyanto. Mereka mengenalkan satu di antara aliran karate yaitu “Shotokan” kepada masyarakat Indonesia.
Kemudian mereka mendirikan sebuah Dojo pada 1963 di Jakarta dan membentuk sebuah wadah bernama PORKI (Persatuan Olahraga Karate Indonesia) sebagai perkumpulan karate.
Kemudian datang lagi mahasiswa lain, yaitu Setyo Haryono, Anton di Lesiangi, Chairul Taman, dan Sabeth Muchsin yang juga telah menyelesaikan pendidikannya di Jepang, membawa karate.
Karate di Indonesia bukan hanya diajarkan oleh para mahasiswa lulusan Jepang saja, tetapi dibantu juga oleh kedatangan para ahli karate dari Jepang asli di antaranya Masatoshi Nakayama Shotokan, Oishi Shotokan, Nakamura Shotokan, Kawawada Shotokan, Matsusaki Kushinsyu, Masutatsu Oyama Kyokushinryu, Ishilshi Gojuryu, dan juga Hayashi Shitoryu.
Lantaran hangatnya sambutan yang diberikan oleh masyarakat Indonesia terhadap karate ini menyebabkan seni bela diri ini berkembang dengan cepat dan besar. Namun, PORKI selaku perkumpulan karate terbesar di Indonesia mengalami perpecahan karena adanya ketaksepahaman.
Pada 1972 dibentuk kembali organisasi baru bernama FORKI (Federasi Olahraga Karate Do Indonesia) yang ditujukan untuk menyatukan kembali karate di Indonesia yang kemudian dijadikan sebagai induk semua organisasi karate di Indonesia.
Hingga saat ini sudah banyak sekali organisasi karate tersebar luas di Indonesia.
